ST Francis Luck Now – Pendidikan Indonesia sering kali dibentuk oleh nilai-nilai tradisional dan keyakinan keluarga yang kuat terhadap ajaran agama. Tidak sedikit anak-anak yang sejak kecil diarahkan oleh orang tuanya untuk menempuh pendidikan agama secara penuh, bahkan mengesampingkan pelajaran umum lainnya. Menghafal kitab suci, mengikuti pengajian rutin, dan menjalani sistem pondok pesantren menjadi pilihan utama bagi banyak keluarga. Meskipun pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter, namun dominasi kurikulum agama di usia produktif anak telah menutup kesempatan mereka untuk menggali ilmu lain. Dalam banyak kasus, minat terhadap ilmu pengetahuan seperti sains, teknologi, dan matematika kurang dikembangkan secara serius. Banyak sekolah yang fasilitasnya minim untuk mendukung eksperimen atau kegiatan berbasis STEM. Ketika dunia luar sedang bersiap menuju era teknologi kecerdasan buatan, sebagian besar generasi muda kita masih disibukkan dengan hafalan-hafalan yang tak selalu berdampak langsung pada pembangunan keilmuan bangsa.
Negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat sudah sejak lama menanamkan pentingnya pendidikan berbasis sains dan teknologi. Di sana, anak-anak sekolah diperkenalkan pada eksperimen laboratorium sejak usia dini. Ilmu pengetahuan tidak dianggap sebagai pelajaran semata, melainkan alat untuk memahami dunia dan menciptakan solusi atas berbagai persoalan. Dukungan dari pemerintah, kurikulum adaptif, dan peran serta industri membuat proses belajar menjadi inovatif dan berorientasi masa depan. Robotik, pemrograman, data analitik, hingga pengembangan energi terbarukan diajarkan dalam bentuk praktik, bukan sekadar teori. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan pendekatan pendidikan di Indonesia, yang lebih mengutamakan hafalan dan ketundukan terhadap sistem ketimbang kreativitas dan eksplorasi. Di negara maju, siswa diajak berpikir kritis dan bertanya sebanyak mungkin. Di Indonesia, banyak siswa masih takut bertanya karena dianggap melawan tenaga pendidik atau menunjukkan ketidaktahuan.
“Baca juga: 28 Satelit Dilepas! Misi Gila SpaceX Bikin Langit Bumi Makin Padat”
Salah satu hal yang menyedihkan dari sistem pendidikan Indonesia adalah besarnya angka pengangguran dari lulusan bidang non-produktif. Banyak sarjana lulusan pendidikan agama yang tidak memiliki keterampilan lain selain pengetahuan teologis. Mereka tidak dibekali kemampuan teknis, digital, atau kewirausahaan. Di sisi lain, negara-negara maju sibuk mencetak inovator yang menciptakan teknologi baru, startup digital, dan penelitian berbasis data. Banyak teknologi yang digunakan di Indonesia saat ini merupakan hasil karya bangsa lain. Sementara kita masih sibuk memperdebatkan kurikulum agama di sekolah umum, negara lain sudah meluncurkan misi luar angkasa. Dunia berubah dengan cepat, namun sistem pendidikan kita masih berjalan dengan pola lama. Bahkan, profesi seperti ilmuwan, peneliti, atau insinyur masih kurang diminati oleh generasi muda Indonesia. Mereka lebih didorong mengejar status sosial keagamaan yang tidak selalu berdampak ekonomi.
Pendidikan Indonesia lebih banyak menekankan pada moralitas ketimbang inovasi. Siswa diajarkan untuk menjadi baik secara pribadi, tetapi tidak selalu dibimbing untuk menjadi solutif terhadap masalah masyarakat. Ajaran agama digunakan sebagai fondasi utama, namun sering kali tidak diselaraskan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Akibatnya, kita mencetak generasi yang taat, namun tidak siap bersaing dalam industri global. Sementara itu, negara maju justru mengajarkan etika dan tanggung jawab melalui praktik ilmiah dan kebebasan berpikir. Mereka percaya bahwa moralitas dibentuk lewat interaksi sosial, empati, dan kolaborasi lintas disiplin. Pendidikan sains mereka tidak sekadar soal rumus, tetapi juga soal keberpihakan pada lingkungan, hak asasi manusia, dan kemajuan teknologi yang adil. Ketika Indonesia sibuk memperbanyak jam pelajaran agama, negara lain memperluas akses siswa ke perpustakaan digital, laboratorium AI, dan pelatihan wirausaha teknologi.
“Simak juga: Panduan Lengkap Belajar Berbasis Proyek: Praktis dan Menyenangkan”
Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang seimbang antara spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Indonesia tidak perlu meninggalkan pendidikan agama, namun harus mulai mengubah cara dan porsi penyampaiannya. Anak-anak perlu memahami nilai moral dan etika, namun mereka juga harus dibekali dengan keterampilan hidup modern. Ilmu agama seharusnya menjadi dasar membentuk karakter, bukan pengganti kompetensi sains dan teknologi. Kurikulum kita harus mulai mengintegrasikan pelajaran agama dengan praktik sosial yang lebih kontekstual. Selain itu, sekolah dan orang tua perlu membuka diri terhadap perubahan. Sains bukanlah ancaman terhadap nilai-nilai spiritual, melainkan alat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Negara maju bisa menjadi contoh bahwa penguasaan teknologi tidak harus meninggalkan nilai. Jika Indonesia ingin berdiri sejajar dengan negara maju, maka transformasi pendidikan harus segera dilakukan. Bukan hanya mengganti sistem, tapi juga mengubah cara berpikir tentang ilmu dan kehidupan.