ST Francis Luck Now – Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia internasional. Pada Selasa 26 Agustus ia menegaskan bahwa universitas di Amerika Serikat akan menghadapi kehancuran jika mahasiswa dari Tiongkok berhenti datang untuk belajar. Menurutnya kehadiran mahasiswa internasional sangat penting, bukan hanya sebagai penopang sistem pendidikan tetapi juga dalam menciptakan iklim global yang dinamis di kampus kampus AS. Ia menambahkan bahwa dirinya senang melihat mahasiswa dari berbagai negara datang menimba ilmu di negeri itu. Ucapan tersebut dianggap sebagai sinyal berbalik dari rencana sebelumnya yang sempat dilontarkan pemerintahannya tentang pencabutan visa agresif bagi mahasiswa asal Tiongkok. Dengan menekankan pentingnya kontribusi mahasiswa asing, Trump berusaha menunjukkan bahwa Amerika masih terbuka sebagai pusat pendidikan dunia meskipun tensi politik dengan Tiongkok sedang tinggi.
Dalam penjelasan lebih lanjut Donald Trump menyinggung bahwa hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok saat ini berjalan cukup baik. Ia bahkan menekankan kedekatannya dengan Presiden Xi dan menyebut pernyataan larangan mahasiswa Tiongkok datang sebagai hal yang menghina. Dengan ucapan itu Trump berusaha menegaskan bahwa kebijakan pemerintahannya tetap ramah pada bidang pendidikan dan pertukaran akademis. Pernyataan ini muncul sehari setelah ia mengeluarkan ancaman tarif 200 persen terhadap Tiongkok sebagai bagian dari sengketa dagang yang belum berakhir. Kontradiksi dari dua sikap yang berbeda ini menimbulkan banyak perdebatan di kalangan pengamat. Di satu sisi Trump menunjukkan ketegasan menghadapi isu perdagangan, di sisi lain ia tetap membuka pintu bagi hubungan yang lebih harmonis dalam bidang pendidikan. Langkah ini menggambarkan pendekatan campuran antara kebijakan keras dan upaya menjaga hubungan diplomatik tetap stabil.
Sehari sebelum memberi pernyataan mengenai mahasiswa, Donald Trump sempat memperingatkan Tiongkok bahwa negaranya akan menghadapi tarif hingga 200 persen bila tidak merespons kebijakan dagang Amerika. Peringatan tersebut dilontarkan sebagai upaya menekan Tiongkok agar membuka akses lebih besar pada produk dan teknologi. Menurut Trump, Amerika memiliki kartu yang luar biasa dalam negosiasi dagang dan jika kartu itu dimainkan maka dampaknya bisa menghancurkan ekonomi Tiongkok. Meski terdengar sangat tegas, pernyataan itu tetap memperlihatkan strategi khas Trump yang sering menggabungkan ancaman dengan ajakan untuk bekerja sama. Ia menyebut suatu saat nanti dirinya akan melakukan kunjungan ke Tiongkok demi menjalin hubungan baik. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana isu perdagangan masih menjadi alat utama dalam diplomasi antara kedua negara besar tersebut. Sementara itu pengamat menilai bahwa kombinasi ancaman tarif dan keterbukaan di bidang pendidikan adalah cara Trump menjaga keseimbangan politik.
Ketika berbicara soal mahasiswa internasional, Trump menekankan bahwa perguruan tinggi Amerika akan hancur tanpa mereka. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan keuangan universitas, tetapi juga reputasi global yang dipertaruhkan. Kehadiran mahasiswa asing telah lama menjadi identitas penting bagi perguruan tinggi di Amerika. Mereka membawa budaya, ide, serta kontribusi ekonomi yang signifikan untuk pendidikan tinggi. Trump mengungkapkan kegembiraannya melihat mahasiswa dari seluruh dunia belajar di universitas terbaik. Dengan pernyataan itu, ia menunjukkan meski kebijakan perdagangan keras, Amerika tetap ingin terbuka. Amerika ingin terus menjaga perannya sebagai pusat pendidikan dunia yang unggul. Hal ini penting mengingat banyak negara juga bersaing menarik mahasiswa internasional. Bagi Trump, menjaga pintu pendidikan tetap terbuka adalah strategi jangka panjang. Langkah itu dianggap penting untuk mempertahankan keunggulan Amerika di panggung global.
“Simak juga: Cuma 3 Orang Tahu Ending One Piece, Salah Satunya Sudah Tiada! Siapa Mereka?”
Pernyataan Trump yang menekankan pentingnya mahasiswa Tiongkok tidak bisa dilepaskan dari konteks politik dan diplomasi global. Di satu sisi ia sedang mengirim pesan keras pada Tiongkok lewat ancaman tarif tinggi, di sisi lain ia berusaha menjaga citra Amerika sebagai negara tujuan pendidikan. Langkah itu membuat dunia melihat ada dua wajah dalam kebijakan yang dijalankannya. Strategi seperti ini bisa saja dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi domestik dan kebutuhan untuk mempertahankan kerja sama internasional. Trump berulang kali menyebut bahwa dirinya ingin menjalin hubungan baik dengan Tiongkok meskipun ada banyak perbedaan pandangan. Dengan memanfaatkan isu pendidikan, ia berusaha menunjukkan sisi Amerika yang terbuka dan ramah, sehingga tidak semua kebijakan pemerintahannya dianggap konfrontatif. Hal ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari taktik negosiasi yang lebih luas dalam panggung geopolitik dunia.